jump to navigation

CNG in Thai, what about Indonesia August 12, 2008

Posted by wicanzayu in Automotive.
trackback

Ditengah menjulangnya harga minyak mentah dunia, dimana sebagian orang meng-klaim bahwa ini disebabkan oleh ulah “Spekulan” dan bukannya oleh Supply and Demand semata, Indonesia sebagai bangsa kayaknya tidak berbuat banyak. Dari berbagai mailist yang saya ikuti dan baca, pemerintah terkesan tanggung dan tidak melakukan antisipasi yang komprehensif terhadap kebutuhan energi ini. Mulai dari Kontrak karya, pengembangan energi alternatif, pengalihan jam produktif, semuanya seperti berjalan sendiri-sendiri dan hanya sebagai sikap reaktif dan bukan antisipasif.

Di Thailand, tempat dimana saya menumpang hidup ampe satu tahun kedepan, pemerintah lewat PTT (Pertaminanya Thailand) membuat kebijakan untuk mengalakkan penggunaan Gas bagi transportasi. Karena mereka sadar betul bahwa negeri mereka tidak bisa menghasilkan minyak dan harga minyak pun trendnya akan selalu naek. Mereka membangun sarana dan prasarana bagi pengembangan CNG (Compressed Natural Gas) dan memberikan insentif bagi perusahaan mobil yang menyediakan OEM Vehicle running on CNG.
Harga CNG di Thailand hanya 8.5 bath (or sekitar 2500 rupiah per liter setara Premium-LSP) dan bagi perusahaan diberikan tax incentif sebesar 50.000 bath or 15 juta rupiah. Dan juga mereka mengexpand stasiun pengisian CNG sehingga dapat dicapai oleh end user dengan gampang.

Selain CNG, Thailand juga mengembangkan biodiesel yang diperoleh dari Jarak Pagar. King Bhumibol sendiri yang memberikan arahannya, karena kalau menggunakan bahan dasar yang bisa digunakan untuk makanan manusia, maka pasti akan terjadi gesekan antara pemenuhan kebutuhan manusia dan bahan bakar. Sampai saat ini mereka sudah membuat Taskforce dari kalangan pemerintah, perguruan tinggi dan perusahaan mobil untuk mengkaji semua aspek dari pemanfaatan bio diesel untuk transportasi. Beda dengan Indonesia, apa yang dilakukan oleh Team Pengkaji Energi alternatif tidak melibatkan perusahaan mobil yang notabene harus menyediakan product yang realible apabila nantinya bahan bakar biodiesel tersebut digunakan dikendaraan.Dan rekomendasinya kayaknya tidak akan beranjak lebih jauh dari sekedar wacana………:((

Terlihat bahwa keseriusan pemerintah sangat besar demi menjaga kemashalatan rakyatnya, di Indonesia sendiri Pertamina sudah mendevelop VIGAS (dalam hal ini LPG) tapi karena Vigas ini dihasilkan dari proses pengolahan minyak bumi, maka ketika harga minya dunia naek, gayung pun bersambut. Vigas pun ikut naek….Padahal penetrasipun belum bisa dikatakan berhasil, tapi harga sudah keburu naek. Vigas sekarang dihargai dengan 5000 rupiah LSP dan bedanya hanya 1000 rupiah dengan Premium bersubsidi. Tentunya perbedaan yang kecil ini tidak akan mendorong end user untuk beralih untuk menggunakan Vigas, karena untuk menggunakannya Customer harus mengkonversi dulu mobilnya dengan investasi lebih kurang 12 jt rupiah. Secara ekonomis dengan perbedaan ini yang tidak signifikan, maka payback period dari investasi juga akan lama ditambah dengan stasiun pengisian Vigas sendiri yang masih sangat terbatas. Tapi ada hope, katanya pemerintah akan membebaskan excise tax Vigas, sehingga harga retail bisa dijual dengan 4300 rupiah LSP. Mudah-mudahan saja ini bisa berjalan.Tapi kalau melihat dari keputusan pemerintah baru-baru ini yang menaikkan harga LPG rumahan, maka jangan-jangan Auto LPG juga akan ikut naek lagi. So, kapan Indonesia bisa beralih ke Alternatif energi selain Minyak bumi.

Auto LPG sendiri memiliki komposisi berbeda dengan LPG rumahan, yaitu terdiri dari campuran propane and butane (51% Propane and 49% Butane) dengan nilai oktan 98 dan disesuaikan untuk kebutuhan pembakaran Internal Combustion Engine. Namun, walaupun nilai oktannya tinggi, kalau digunakan pada mobil yang dikonversi maka keunggulan dari LPG tidak bisa termanfaatkan secara maksimal. Penyebabnya adalah engine gasoline dirancang untuk bekerja pada compression ratio yang tidak terlalu tinggi untuk mengkompensasi nilai oktan pada premium 88 (sebagai contoh pada kijang innova hanya 1:9.6), apabila engine ini dikonversi untuk running dengan LPG, maka nilai oktan 98 tidak akan ada artinya karena toh tetap pada kompression ratio yang rendah sehingga thermal efficiency juga tidak akan bertambah. Memang ada drawback yang akan dialami oleh customer dengan dialihkannya bahan bakar ke LPG, yaitu turunnya nilai torsi & power yang dihasilkan engine dan keausan pada Seat Valve dan Valve. Tetapi jika pemerintah mendorong, maka perusahaan mobil tentunya bisa menyediakan engine yang suitable untuk pemakaian bahan bakar LPG/CNG, sehingga efek negatif dari pemakaian bahan bakar alternatif ini bisa diminimalisir.

Comments»

1. Toha - September 17, 2008

apakah komposisi pada gas NGV

2. wicanzayu - September 23, 2008

Mas Toha,

Kalau NGV yang digunakan itu adalah Gas Methane (CH4) yang bisa diambil langsung dari sumber-sumber gas yang ada dialam. Tetapi memang ada beberapa inert gas (N2, etc) yang harus dihilangkan agar Gas yang digunakan dapat dibakar dengan sempurna.

Mungkin bisa membantu.

Wassalam

3. kangmasaji - October 9, 2008

SYA JUGA PERNAH KE TAHI
DISANA 70% KENDARAAN MEMAKAI GAS
KARNA PEMERINTAH NYA MENDUKUNG
DAN BUAT INSTALASINYA TIDAK BERBELIT2 KAYAK DI INDONESIA.
PEMERINTAH THAI MENCCIPTAKAN SESUATU BUAT RAKYAT.
KALO DI SINI “CAPE DEH”

4. Reza - April 1, 2009

Mas, apa perbedaan antara CNG dan LPG ? Karena ditulis bahwa Pertamina mendevelop LPG dari minyak bumi. Bagaimana dengan CNG yang digunakan di Thailand?

wicanzayu - April 1, 2009

Mas Reza,

Kalau CNG yang digunakan itu adalah Gas Methane (CH4) yang bisa diambil langsung dari sumber-sumber gas yang ada dialam. Tetapi memang ada beberapa inert gas (N2, etc) yang harus dihilangkan agar Gas yang digunakan dapat dibakar dengan sempurna. Sedangkan LPG, merupakan hasil dari pengolahan minyak bumi. Jadi kalau harga minyak mentah mahal, maka udah otomatis harga LPG juga ikut naik.

Mungkin bisa membantu.

Wassalam

5. Stuard - September 8, 2009

Sy dri chemical development indo.
Sbaiknya pra commntator dpt mgajukan ide2nya mlalui mnteri smber daya mineral atw institusi tknologi !
Hal itu lbh baik dari pada terus mngomentari pmerintah dri sni…